KARAWANG | INFOKUS.CLICK – Ikhsan Indra Putra, Calon Kepala Desa Duren nomor urut 3, merasa bersyukur dan bahagia setelah resmi ditetapkan sebagai calon dan mendapatkan nomor urut 3 dalam pengundian nomor urut Pilkades Duren.Minggu 18/10/26
Pada saat penetapan calon dan pengundian nomor urut, momen tersebut menjadi momentum yang sangat bahagia bagi Ikhsan Indra Putra.
“Bersyukur kepada Allah SWT, saya bisa lolos di tahap yang kedua ya, yang pertama itu penetapan calon yang lolos administrasi, yang kedua penetapan calon setelah pasca seleksi. Ini jadi kebanggaan, kebahagiaan tersendiri bagi saya. Sujud syukur pada Allah SWT mendapat nomor urut 3. Mudah-mudahan ini menjadi tanda bagi kemenangan saya ke depannya,” ujar Ikhsan Indra Putra.
Ikhsan Indra Putra bukan sosok baru di pemerintahan. Ia pernah menjadi Komisioner KPU periode 2018 hingga 2023. Kemudian pada tahun 2025, ia menjabat sebagai Direktur BUMDES Desa Duren.
Dengan pengalaman tersebut, Ikhsan mengusung misi untuk membangun desa secara mandiri, berdaya saing, dan sejahtera.
Misi pertamanya adalah menata kelolaan pemerintahan desa yang kuat dan solid. Kedua, mendorong potensi ekonomi lokal. Ketiga, menghadirkan PADes yang setinggi-tingginya, sehingga tidak menjadi beban dana desa dengan luas wilayah Duren yang cukup luas, dan mengoptimalkan pembangunan.
“Yang keempat, saya ingin Desa Duren ini mempunyai ciri khas. Apa sih cirinya, baik itu dari produk, kulinernya, produk kerajinannya, ataupun produk yang lainnya. Sehingga itu bisa menjadi market dan nilai tambah untuk Desa Duren menuju daya saing yang cukup luas,” jelas Ikhsan.
Dalam metode kampanye, Ikhsan menggunakan dua cara. Pertama, melalui media digital untuk menyasar pemilih Gen Z yang melek terhadap media digital. Ia melakukan persuasi kepada masyarakat melalui platform Facebook, Instagram, TikTok dan platform media lainnya.
Kedua, melalui metode Ngosrek yang merupakan obrolan santai, rekatkan kebersamaan. Datang ke warga secara door-to-door, kumpul lima atau empat orang membahas aspirasi, sehingga aspirasi masyarakat menjadi tolak ukur pemerintahan desa untuk direalisasikan.
“Jadi ada dua metode, ada di media digital, ada juga sosialisasi secara door-to-door dan juga tatap muka,” pungkasnya(Andyka)

